Selamatkan Mereka

 photo 20140127_182937_penderita-lumpuh-layu_zpsk1nsea7x.jpg" />  photo unduhan_zpscvsqtv1t.jpg" />  photo Pemabuk_zpsdkgd9fxc.jpg" />  photo images 7_zpshlotigqc.jpg" />  photo een-sukaesih-673x357_zpswd4l2dgl.jpg" />  photo images 5_zpsywpp0c5b.jpg" />  photo images 6_zps4qalzgc4.jpg" />  photo images 4_zpsyzr4393l.jpg" />  photo images 3_zpsfdbi0unj.jpg" />  photo images 2_zpsjibxwr37.jpg" />  photo images 1_zps3qkxhjic.jpg" />  photo Keluarga Miskin Penderita Lumpuh Berjuang Hidup dari Canang_392311_zpss4igxcde.jpg" />

Selasa, 31 Maret 2015

MAXIMIZING YOUR CAPACITY

Oleh: Paulus Winarto *
bottle_with_colored_water_in_glass-other
If you keep learning, keep growing, God will keep blessing.
- Rick Warren
Lola – sebut saja begitu – tampaknya sungguh bermuka badak. Berkali-kali ia kena teguran keras dari atasannya untuk masalah yang sama namun Lola tidak juga menunjukkan perubahan. Memang setiap kali ditegur, Lola selalu mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sayangnya, permintaan maaf ini tidak serta merta diikuti dengan tekad untuk merubah diri menjadi lebih baik.
Selain itu, anak-anak buah Lola juga kerap mengeluh karena kreativitas mereka seolah dibelenggu oleh Lola yang terbilang karyawan senior itu. Berbagi ide segar demi kemajuan perusahaan kerap kali langsung dimentahkan oleh Lola. Alasannya klasik: perusahaan tidak pernah melakukan hal tersebut sehingga terlalu berisiko untuk diterapkan.
Meski sudah diyakinkan dengan berbagai data ilmiah tentang begitu banyak perusahaan lainnya yang menerapkan ide inovatif yang hampir serupa, Lola tetap saja menolaknya. “Udah, jangan banyak ngomong. Saya lebih tahu urusan beginian daripada kamu. Kamu masih anak ingusan saja, saya sudah jadi supervisor di sini,” begitu kalimat yang sering kali dilontarkannya. Menusuk hati memang tapi apa boleh buat. Anak-anak buahnya hanya menurut. Alhasil seiring perjalanan waktu, divisi tempat Lola memimpin mengalami stagnasi. Turn over pun tinggi lantaran banyak yang merasa tidak dihargai dan kreativitasnya diberangus.
Benar kata para pakar karir bahwa di dunia kerja akan ada 4 jenis karyawan jika dilihat dari sudut pandang motivasi dan kemampuan kerja. Ilustrasinya terlihat pada gambar di bawah ini.
motivasi
Tentu perusahaan sangat mengharapkan semua karyawannya ada di kwadran III (memiliki motivasi kerja tinggi dan kemampuan kerja yang tinggi) namun memang tidak mudah mendapatkannya. Kalau saja ada sekitar 20 persen karyawan di sebuah perusahaan seperti itu, maka itu sudah sangat bagus.
Mereka yang berada di kwadran I sebaiknya tidak direkrut agar tidak menjadi racun atau benalu di dalam perusahaan. Kalau pun sudah terlanjur ada, cobalah untuk dibina dengan berbagai cara: dilatih, dimentoring, ditegur, dst. Jika tidak bisa, apa boleh buat, terkadang harus “dibinasakan”. Misalnya dengan cara dimutasi, ditawarkan pensiun dini, dipaksa mengundurkan diri hingga dipecat.
Para fresh graduated umumnya berada di kwadran II. Mereka masih sangat bersemangat karena usia masih muda namun belum punya pengalaman kerja memadai sehingga kemampuan kerja masih terbilang rendah, meski prestasi akademik bisa jadi sangat cemerlang. Namun bukankah dunia kerja tidak selalu seindah teori di bangku-bangku kuliah?
Yang terkadang bisa menjadi masalah besar adalah mereka di kwadran IV. Lola termasuk di dalamnya. Umumnya yang berada di sini adalah mereka yang sudah senior, bahkan amat senior sehingga nyaris jenuh. Mereka telah menduduki jabatan tertinggi sesuai persyaratan yang ada di perusahaan. Untuk naik ke jabatan yang lebih tinggi, terkadang sudah nyaris mustahil mengingat usia atau persyaratan minimal pendidikan. Dengan kata lain, ada sebagian yang sudah keburu malas jika harus kuliah lagi atau mengikuti sejumlah pelatihan.
Mereka yang ada di kwadran IV dalam hal tertentu bisa dikatakan orang yang sudah banyak makan asam garam dalam bidangnya . Dalam dunia seprofesi, mereka mungkin dianggap sebagai orang yang ahli. Sayangnya, tanpa sikap mau diajar, mereka cenderung merasa tahu segalanya tentang bidang tersebut. Dampaknya, mereka berhenti belajar dan divisi yang mereka pimpin pun berhenti bertumbuh.
Benar kata Sydney Harris, “Seorang pemenang tahu betapa banyak yang masih harus dipelajarinya, meski ia telah dianggap ahli oleh orang lain; seorang pecundang ingin dianggap ahli oleh orang lain sebelum ia cukup belajar untuk mengetahui betapa sedikit yang diketahuinya”. A winner knows how much he still has to learn, even when he is considered an expert by others; a loser wants to be considered an expert by others before he has learned enough to know how little he knows.
ARE YOU GROWING?
Saya sangat salut dengan mentor saya, John C. Maxwell. Ia masih terus belajar meski ia telah menulis lebih dari 70 buku kepemimpinan dan sejak beberapa tahun lalu dikukuhkan sebagai guru kepemimpinan paling berpengaruh di dunia (the world’s most influential leadership guru) berdasarkan survei internasional lembaga Leadership Gurus International (LeadershipGurus.net). EQUIP, organisasi non-profit yang didirikan pria kelahiran tahun 1947 itu telah melatih lebih dari 5 juta pemimpin di lebih dari 175 negara. Saya sungguh beruntung menjadi bagian dari kegerakan EQUIP ini (sebagai salah satu EQUIP Leadership Trainer).
Menjadi pribadi yang lebih baik bukanlah hal yang otomatis terjadi seiring dengan semakin bertambahnya usia seseorang. Agar menjadi lebih baik, diperlukan niat serta upaya yang nyata untuk terus belajar, berubah dan bertumbuh. Ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik, hidup kita bisa lebih bermanfaat dan pada akhirnya kita layak untuk menjadi orang yang lebih sukses.
Secara praktis, Maxwell memberikan sejumlah indikator apakah kita saat ini sedang berada pada sebuah lingkungan yang bertumbuh (a growth environment), yaitu:
  1. Ada orang lain yang lebih pandai dari Anda (others are ahead of you).
  2. Anda terus merasa tertantang dengan hal-hal yang baru (you are continually challenged).
  3. Fokus Anda adalah ke depan (your focus id forward).
  4. Atmosfernya menguatkan atau memotivasi pertumbuhan (the atmosphere is affirming).
  5. Anda sering keluar dari zona nyaman (you are often out of your comfort zone).
  6. Anda bergairah ketika bangun tidur (you wake up excited).
  7. Kegagalan bukanlah musuh Anda (failure is not your enemy).
  8. Orang lain di sekeliling Anda pun terus bertumbuh (others are growing).
  9. Ada kesediaan untuk berubah menjadi lebih baik (there is a willingness to change).
  10. Pertumbuhan diteladankan dan diharapkan (growth is modeled and expected).
Pertanyaan sekarang, dari sepuluh indikator itu, berapa yang dengan tegas berani Anda jawab dengan kata “Ya”? Semakin sedikit jawaban ya, kemungkinan semakin kecil pula tingkat pertumbuhan yang Anda miliki untuk bisa memaksimalkan kapasitas Anda. Jika jumlah ya sangat sedikit, mungkin sudah saatnya Anda merubah sikap Anda atau memilih lingkungan baru demi optimalisasi pertumbuhan Anda agar hidup Anda bisa lebih bermanfaat. Semoga! ***
* Best Selling Author, Motivational Teacher, Leadership Trainer & Coach (John Maxwell Team). Klik www.pauluswinarto.com.
If you cannot be teachable, having talent won’t help you.
If you cannot be flexible, having a goal won’t help you.
If you cannot be grateful, having abundance won’t help you.
If you cannot be mentorable, having a future won’t help you.
If you cannot be durable, having a plan won’t help you.
If you cannot be reachable, having success won’t help you.
  • J. Konrad Hole



SUMBER : http://blog.pauluswinarto.com/2014/03/16/maximizing-your-capacity.html#more-691

Kamis, 26 Maret 2015

"Betapa indahnya kedatangan "kita" yang membawa kabar baik!"

ROMA 10

10:13Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
10:14Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
10:15Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"


YESAYA 52

52:7. Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!"



kalau bukan kita siapa lagi, bagi kita yang sudah menerima kabar keselamatan, mari berikan juga itu kepada orang lain kluarga, sodara, sahabat, teman kerja, dan setiap org yg kita temui..supaya mereka juga diselamatkan.. karena "Betapa indahnya kedatangan "kita" yang membawa kabar baik!"


Gbu sodara2

Selasa, 24 Maret 2015

Murah hati


Semangkuk Nasi Putih

Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan  cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

Kemudian pemuda itu berkata: “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih”; dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:”Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:” kuah sayur gratis.” Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
 
” Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”
Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.
 
“Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !”jawab pemuda.

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan.
Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?

Suaminya kemudian membisik kepadanya :”Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”

“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”
“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

“Terima kasih, saya sudah selesai makan.”Pemuda ini pamit kepada mereka.
Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
 
“Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur,dan mereka kehilangan mata pencaharian.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
“Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.”

“Siapakah direktur diperusahaan kamu ? Mengapa begitu baik terhadap kami? sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang ia katakan, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.”

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:”bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !”

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. 

 
 
 
 
 
 
 
 

Senin, 23 Maret 2015

CARA BILLY GRAHAM VS CHARLES TEMPLETON Menjawab KRISIS IMAN mereka !




"Kekristenan harus ditolak oleh setiap orang yang mempunyai sedikit rasa hormat terhadap akal sehat. " [ George H. Smith, ateis ]


"Iman Kristiani bukan sebuah lompatan yang irasional. Kalau diteliti secara objektif, pengakuan-pengakuan dalam Alkitab semuanya adalah pernyataan-pernyataan rasional, yang didukung dengan akal sehat dan bukti. " [ Charles Colson, orang Kristen ]




Billy Graham dan Charles Templeton merupakan dua orang penginjil yang sangat disegani pada dekade tahun 1940-an, sementara Billy Graham terus berkarya bagi Kristus sampai sekarang, sementara kemudian Charles Templeton menjadi seorang agnostik dan menyerang iman kristen.

Charles Templeton setelah mengalami pertobatan di usia 20-an tahun dan meninggalkan pekerjaannya sebagai staf bagian olah raga di di penerbitan surat kabar Toronto globe demi pelayanan, dia bertemu dengan Billy Graham pada tahun 1945 dalam sebuah acara rally KKR “Youth for Christ” . Mereka berdua tinggal dalam satu kamar dan selalu bermitra selama tur KKR di Eropa, dan saling bergantian mengisi mimbar dalam rali-rali KKR tersebut. Templeton kemudian mendirikan sebuah gereja, dan dalam waktu dekat ruang kebaktiannya yang memuat 1200 kursi membludak. American Magazine pada waktu itu mengatakan bahwa dia “menetapkan sebuah standard penginjilan baru. “ Persahabatannya dengan Billy Graham bertumbuh. “ Dia adalah salah satu dari segelintir orang yang benar-benar kucintai dalam hidupku, “ kata Graham kepada seorang penulis biografinya.

Kemudian pada tahun 1949, kedua penginjil tersebut diserang oleh kebimbangan akan iman mereka ! Seperti yang kita ketahui, pada masa-masa tersebut, teologi liberal yang sangat menekankan rasionalitas dalam berteologi sedang sangat populer, dimana dalam pandangan mereka banyak hal-hal dalam inti iman Kekristenan tradisional yang tidak layak lagi dipercaya dan digugat kebenarannya. Templeton kemudian mulai mengalami keragu-raguan akan iman Kristen yang dipegangnya, “ Aku masih kekurangan keterampilan-keterampilan intelektual dan juga pendidikan teologi yang dibutuhkan untuk menopang keyakinanku, ketika pertanyaan-pertanyaan serta keragu-raguan yang tak terhindarkan mulai menyerangku...Akalku mulai menantang dan kadang-kadang membantah inti keyakinan dari iman kristianiku.Sampai kemudian pada satu titik, Templeton kehilangan iman kristianinya.

Hal yang menyebabkan Templeton kehilangan seluruh iman kristianinya adalah sebuah gambar dalam majalah Life, dimana gambar tersebut adalah sebuah potret seorang wanita berkulit hitam di Afrika Utara, yang sedang menggendong anak bayinya yang sudah mati sambil menatap langit dengan tatapan kosong seperti memohon hujan kepada Allah dengan ekspresi putus asa, karena pada waktu itu mereka sedang mengalami kekeringan yang sangat hebat. Templeton memandangi gambar tesebut sambil berpikir, “ Mungkinkah kita percaya ada Pencipta yang penuh kasih dan kepedulian, padahal yang dibutuhkan oleh wanita ini hanya hujan ? “

Bagaimana Allah yang penuh kasih melakukan hal itu kepada wanita ini ? Siapa yang memerintah hujan ? Aku tidak, manusia lain tidak. Dialah yang menguasainya-paling tidak itulah yang kukira pada waktu itu ! “ Ketika Templeton kembali melihat potret wanita itu, dia kemudian merasa tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena ada Allah yang maha pengasih. Tidak ada jalan lain. Siapa lagi kecuali orang jahat, yang tega menghancurkan seorang bayi dan dengan begitu sebenarnya juga membunuh ibunya dengan kepediah-padahal yang dibutuhkan hanyalah hujan ? Itulah Klimaksnya bagaimana templeton menolak iman kristiani yang dipercayainya selama lebih dari 20 tahun.

Dan kemudian Templeton mulai berpikir lebih jauh tentang dunia sebagai ciptaan Allah. Templeton mulai memikirkan tentang berbagai bencana yang melanda bagian-bagian planet ini, dan tanpa pandang bulu membunuh-lebih sering dengan cara yang menyakitkan-semua macam manusia, yang biasa, yang baik dan juga jahat. Tiba-tiba menjadi jelas bagaikan kristal bagi Templeton bahwa tidak mungkin seorang yang punya intelegensia percaya ada Allah yang mengasihi !

Kembali kepada Billy Graham, pada tahun 1949 juga mengalami kebimbangan yang sama, diusia yang masih muda sekitar 30-an tahun, dan telah menjadi seorang penginjil terkenal, Billy mengingat kembali apa yang dikatakan Templeton kepadanya, “ Billy, kamu sudah ketinggalan zaman lima puluh tahun, orang-orang tidak bisa lagi menerima Alkitab sebagai karya wahyu, seperti yang kamu yakini. Imanmu terlalu sederhana. “ Pada saat yang sama Billy ingat kembali dengan Henrietta Mears yang pebuh iman dan selalu meyakinkan Billy dengan kata-kata yang selalu diulang bahwa Alkitab sangat dapat dipercaya.

“Templeton tampaknya memenangkan perang tarik-tarikan itu, kalau aku tidak benar-benar bimbang, paling tidak aku sudah merasa sangat terganggu. “ Kata Billy Graham mengingat kembali saat itu. Billy Graham tahu kalau dia tidak dapat lagi mempercayai Alkitab, dia tidak mungkin maju terus dalam kegiatan pekabaran injil. Pada saat itu The Los Angeles Crusade yang merupakan organisasi penginjilan yang didirikan Billy masih tergantung dalam keseimbangan.

Billy Graham mencari-cari jawabannya dalam Alkitab atas semua yang dikatakan oleh Templeton dan juga keputusan Templeton untuk meninggalkan iman kristianinya, dia berdoa, dia merenungkannya. Akhirnya, dalam pergumulan yang sangat berat di bawah sinar bulan di pegunungan San Bernardino, segalanya mencapai klimaksnya. Dengan menggenggam Alkitabnya erat-erat, Billy Graham berlutut dan mengakui bahwa dia tidak mampu menjawab sebagian pertanyaan filosofis dan psikologis yang diajukan oleh Templeton dan juga orang lain yang menentang iman kristen.

Aku sedang mencoba untuk menjadi setaraf dengan Allah, tetapi masih ada hal-hal yang tak terucapkan, “ tulisnya. “ Akhirnya Roh Kudus membebaskan memerdekakan aku untuk mengucapkannya. “ Bapa, aku menerima ini sebagai FirmanMU-dengan IMAN ! Aku akan mengizinkan imanku mengalahkan pertanyaan-pertanyaan kebimbangan Itelektualku, dan aku percaya bahwa Alkitab ini adalah Firman yang Tuhan wahyukan.

Ketika Billy Graham bangkit kembali dengan air mata berlinang-linang, dia mengatakan bahwa dia merasakan kuasa Allah yang sudah berbulan-bulan tak dirasakannya. “ Tidak semua pertanyaanku terjawab, tetapi sebuah jembatan besar telah kulalui, “ katanya. “ Dalam hati dan pikiranku, aku tahu sebuah peperangan rohani dalam jiwaku telah terjadi dan aku memenanginya.

50 tahun kemudian, Billy Graham dalam usianya sudah delapan puluh tahun, sedang bergumul dengan penyakit Parkinson, tetapi dengan tegar dia menatap kerumunan orang dalam RCA Dome di Indianapolis, dan dia berbicara dengan suara tegas dan kuat. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keraguan, tidak ada rasa ketidakpastian atau kebingungan, untuk menantang setiap orang menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat mereka !

Sementara itu 200 kilometer dari Indianapolis, Tempeleton yang skeptis dan juga telah berusia lebih dari delapan tahun tinggal di sebuah bangunan pencakar langit, dalam salah satu apartemen kelas menengah di Toronto dengan penyakit Alzheimer yang menyerangnya sedemikian parah, dimana telah mengeraskan hatinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan dan Alkitab yang mengubahnya menjadi kepahitan yang menentang Kekristenan, baru saja memerbitkan sebuah buku yang berjudul, Farewell to God: My Reason for Rejecting the Christian Faith. Buku tebal, penuh ungkapan kekecewaan itu berusaha untuk menghancurkan iman kristiani, menyerang iman kristen dengan tuduhan-tuduhan sebagai, “ ketinggalan zaman, nyata-nyata tidak benar, dan seringkali, dalam berbagai manifestasinya, merugikan bagi pribadi-pribadi dan masyarakat.


Kisah Billy Graham dan Charles Templeton diatas, jelas sekali menggambarkan, bahwa pada satu titik tertentu iman kita akan mengalami suatu tantangan, yang akan memberikan pilihan, mempertahankan atau meninggalkan ! Inilah yang mungkin dinamakan krisis iman ! Pasti banyak diantara orang-orang kristen yang mengalami krisis iman, dan tidak menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan mengenai iman yang selama ini diyakininya ! Banyak dari mereka yang mengalami krisis iman kemudian kalah dan mengeraskan hatinya seperti Charles Templeton, dan kemudian meninggalkan iman kristennya dan entah memeluk iman keyakinan agama lain, menjadi agnostik atau ateis ! Tetapi banyak juga dari mereka yang mengalami krisis iman tetapi kemudian tetap menang walaupun tidak mendapatkan semua jawaban yang diinginkan, dan setelah itu menjadi lebih kuat dan yakin akan iman kristennya, karena menaklukkan hati dan pikiran mereka dibawah otoritas Roh Kudus, dan tetap percaya bahwa iman kristiani yang mereka yakini adalah tetap yang terbaik bagi mereka, seperti yang dialami oleh Billy Graham !

Jadi pernahkah anda mengalami krisis iman ? Apakah sekarang ini anda dalam kondisi kalah, dan berniat untuk meninggalkan iman kristiani yang telah anda yakini ? atau jangan-jangan anda telah menjadi skeptis dan meninggalkan iman kristen ! Kalau anda dalam kondisi seperti ini, saran saya hanya taklukkan segala pikiran dan hati anda dibawah Roh Kudus, dengan mengingat bahwa kita hanyalah manusia yang serba terbatas sementara Allah adalah tidak terbatas, sehingga kita tidak mungkin menyamai cara berpikir dan bertindak seperti Allah.
 
 
sumber : http://indonesiaindonesia.com/f/76695-cara-billy-graham-vs-charles-templeton/
 
 
 
 
 

Sabtu, 21 Maret 2015

Billy Graham - Memiliki hati yang sederhana dan mulia..dipakai Tuhan dan populer diusia muda

https://01f6bf64-a-62cb3a1a-s-sites.googlegroups.com/site/hengkysuwito/biografi/billy-graham/Billy%20Graham.jpg?attachauth=ANoY7crRtrifBV4pIQEb5XuhFmOjNANuOnlGZmmK9ibp77JkO_3izg13BgMUouLTUXOznXdBGlPPFqtxcgEX58BtySfr4rYJXusgTHcyyi5GaQwMNksHLbYQYBL-lYFQrfojjLTK86VB2DYO82hVQWjwma2SK3wSrEbVQomYiniE-GOEPjgjYnpevVEqUOJ83NytRFKQWSCHaFVs5nZM_AkJryDRRWSm-4Fh0rmpaHfaNUjOwttw268MwOuEtb0sBDk2xr-lGFe8&attredirects=0
"Bermula dari kesederhanaannya sebagai anak dari peternak susu sapi....mencuat menjadi penginjil muda yang populer"

"Tujuan hidup saya adalah membantu orang lain menemukan hubungan pribadi dengan Allah, yang saya yakini, hanya melalui pengenalan akan Kristus." -- Billy Graham


Penginjil Billy Graham benar-benar menerima Kristus saat ia membaca Markus 16:15: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk."

Graham telah mengabarkan Injil secara langsung kepada lebih banyak orang daripada yang pernah dilakukan oleh orang lain di sepanjang sejarah -- hampir 215 juta orang di lebih dari 185 negara dan wilayah -- melalui berbagai pertemuan, termasuk Mission World dan Global Mission. Ratusan juta lebih lainnya telah dijangkau melalui televisi, video, film, dan internet.

Sejak tampil di muka umum dalam suatu kegerakan di Los Angeles (1949), dia telah membawa ratusan ribu orang mengambil keputusan untuk hidup bagi Tuhan -- yang adalah esensi pelayanannya.

Graham dilahirkan pada 7 November 1918, 4 hari sebelum gencatan senjata mengakhiri Perang Dunia I. Graham dibesarkan di daerah peternakan susu di Charlotte, Carolina Utara. Tumbuh pada masa Depresi, dia tidak hanya menemukan nilai suatu kerja keras dalam peternakan keluarga, tetapi juga meluangkan waktu berjam-jam di loteng gudang jerami untuk membaca berbagai macam topik buku.

Pada musim gugur 1934, pada usia 16 tahun, Graham membuat komitmen pribadi kepada Kristus melalui pelayanan Mordecai Ham, seorang penginjil keliling, yang mengunjungi Charlotte dalam serangkaian pertemuan kebangunan rohani.

Ditahbiskan pada 1939 oleh sebuah gereja di Southern Baptist Convention, Graham menerima dasar Alkitab yang kuat di Florida Bible Institute (sekarang Trinity College di Florida). Tahun 1943, ia lulus dari Wheaton College di Illinois dan menikahi teman kuliahnya, Ruth McCue Bell, anak perempuan seorang dokter bedah misionaris, yang telah menghabiskan 17 tahun hidup pertamanya di Tiongkok.

Setelah lulus kuliah, Graham menjadi pendeta di First Baptist Church di Western Springs, Illinois, sebelum bergabung dengan Youth for Christ, suatu organisasi yang didirikan untuk melayani para pemuda dan tentara selama Perang Dunia II. Dia berkhotbah ke seluruh Amerika dan Eropa setelah masa perang; mencuat menjadi penginjil muda yang populer.

Pertemuan akbar di Los Angeles pada 1949 mengorbitkan Graham menjadi pembicara internasional yang andal. Pertemuan yang dijadwalkan hanya 3 minggu itu diperpanjang hingga lebih dari 8 minggu, dihadiri peserta yang melebihi kapasitas tenda yang setiap malam didirikan di kota. Setelah itu, banyak pertemuannya yang waktunya juga diperpanjang, termasuk pelayanan di London yang berlangsung selama 12 minggu, dan pertemuan di Madison Square Garden, New York, tahun 1957 yang diadakan tiap malam selama 16 minggu.

Pada usia 88 tahun, Billy Graham dan pelayanannya terkenal di seluruh dunia. Dia telah berkhotbah di desa-desa terpencil di Afrika dan di jantung kota New York. Mereka yang telah dia layani beragam; dari kepala negara hingga penduduk desa di Australia dan suku-suku pengembara di Afrika dan Timur Tengah. Sejak 1977, Graham telah diberi kesempatan untuk memberikan khotbah misi di setiap negara yang dulunya masuk dalam blok Timur, termasuk bekas Uni Soviet.

Graham mendirikan Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) pada tahun 1950 yang berpusat di Minneapolis, Minnesota, hingga pindah ke Charlotte, Carolina Utara, pada 2003. Dia memimpin pelayanannya melalui BGEA, termasuk:

    Siaran program radio mingguan, "Hour of Decision", ke seluruh dunia setiap hari Minggu selama lebih dari 50 tahun;
    Acara TV yang khusus menampilkan KKR-KKR Billy Graham and Franklin Graham Festivals yang disiarkan secara rutin lima hingga tujuh kali setiap tahun pada jam tayang utama di sekitar 150 stasiun di seluruh Amerika dan Kanada;
    Kolom koran gabungan, "My Answer", yang disusun oleh koran-koran nasional maupun internasional;
    Majalah "Desicion", publikasi resmi dari organisasi asosiasinya, yang sirkulasinya lebih dari 600.000 dan tersedia dalam versi bahasa Inggris dan Jerman, dengan edisi khusus dalam huruf Braille dan kaset bagi para tunanetra; dan
    "World Wide Pictures" yang telah menghasilkan dan mendistribusikan lebih dari 125 produksi, membuatnya sebagai salah satu produser evangelistis terkemuka di dunia. Film-filmnya telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa dan ditonton oleh lebih dari 250 juta orang di dunia serta dapat ditonton di lembaga pemasyarakatan di seluruh dunia.

Graham telah menulis 25 buku, banyak di antaranya menjadi buku terlaris. Riwayatnya, "Just As I Am", yang diterbitkan tahun 1997, menerima "mahkota susun tiga" (triple crown), yang muncul secara serentak dalam daftar tiga besar buku terlaris selama seminggu. Dalam riwayat itu, Graham merenungkan hidupnya, termasuk pelayanannya ke seluruh dunia yang sudah lebih dari 60 tahun. Bermula dari kesederhanaannya sebagai anak dari peternak susu sapi di Carolina Utara, dia membagikan bagaimana imannya yang teguh di dalam Kristus terbentuk dan membentuk kariernya.

Di antara buku-bukunya yang lain, "Approaching Hoofbeats: The Four Horsemen of the Apocalypse" (1983), selama beberapa minggu masuk dalam daftar buku terlaris The New York Times; "How to Be Born Again" (1977) menjadi buku yang paling banyak dicetak pada cetakan pertamanya dalam sejarah penerbitan, dengan 800.000 oplah; "Angels: Gods Secret Agents" (1975) terjual satu juta oplah dalam 90 hari; dan "The Jesus Generation" (1971) terjual 200.000 oplah dalam waktu 2 minggu pertama.

Gagasan Graham diminati oleh para presiden, dan daya tariknya baik di arena sekuler dan religius dibuktikan oleh banyaknya orang yang menghormatinya, termasuk sejumlah doktor kehormatan dari berbagai institusi di Amerika dan luar negeri.

Penghargaan yang pernah diterima antara lain adalah "Ronald Reagan Presidential Foundation Freedom Award" (2000) atas kontribusinya dalam mewujudkan perdamaian; "Congressional Gold Medal" (1996); "Templeton Foundation Prize for Progress in Religion" (1982); dan "Big Brother Award" atas usahanya memperjuangkan kesejahteraan anak-anak. Pada tahun 1964, dia menerima penghargaan "Speaker of the Year Award" dan namanya diukir di George Washington Carver Memorial Institute atas kontribusinya dalam menjalin relasi. Dia dikenal oleh Anti-Defamation League dari B`nai B`rith pada 1969 dan National Conference of Christians and Jews pada 1971 atas usaha-usahanya untuk membantu perkembangan pemahaman antaragama yang lebih baik. Pada Desember 2001, dia dianugerahi "Honorary Knight Commander of the Order of the British Empire" (KBE) atas kontribusi internasionalnya terhadap kehidupan warga negara dan agama selama lebih dari 60 tahun.

Graham secara rutin didaftar oleh organisasi Gallup sebagai salah satu "Ten Most Admired Men in the World" (10 tokoh paling dikagumi di dunia), yang menggambarkannya sebagai tokoh dominan dalam pemilihan itu sejak 1948 -- tampil dalam 48 acara berbeda dan 41 acara berurutan. Dia juga muncul di sampul majalah "Time", "Newsweek", "Life", "U.S. News", dan "World Report", "Parade", dan berbagai majalah lain, serta telah menjadi berita utama di berbagai koran, majalah, dan buku.

Graham dan istrinya, Ruth, memiliki tiga anak perempuan, dua anak laki-laki, sembilan belas cucu, dan sejumlah buyut. Keluarga Graham membangun rumah di pegunungan di Carolina Utara bagian barat.

sumber : http://biokristi.sabda.org/billy_graham_0





Jumat, 20 Maret 2015

#FKK 21

Memanggil seluruh penduduk Jakarta menyambut Festival Kuasa Allah! #‎FestivalKuasaAllah21‬



bagi warga Jakarta, yang merindukan kesembuhan dan pemulihan.. hadiri Festival Kuasa Allah dan alami mujizat kebuhan.. segala kemuliaan bagi Tuhan.